Penyakit HIV AIDS

A2
Para ahli mengatakan bahwa AIDS telah sangat merajalela sehingga dapat dibandingkan dengan penyakit Pes yang telah membunuh seperempat penduduk Eropa di abad ke-14. Dilaporkan bahwa sekarang ini ada 35 juta orang yang sedang mengidap virus penyebab penyakit ini. Sebagai contoh, beberapa perkampungan di Uganda barat daya musnah sama sekali karena AIDS.

Di Indonesia sendiri jumlah penderita penyakit menular Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Indonesia terus bertambah. Data yang dimiliki Departemen Kesehatan (Depkes) menunjukkan, hingga akhir September lalu, jumlah penderita AIDS mencapat 18.442 orang dan 20% dari penderita AIDS telah meninggal dunia. Hampir semua propinsi dan kabupaten di Indonesia melaporkan adanya kasus AIDS di daerahnya masing-masing. Secara berurutan jumlah penderita paling banyak adalah di Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.  Penderita tertinggi terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun (49,57 persen), disusul kelompok umur 30-39 tahun (29,84 persen) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,71 persen). 

Sebenarnya apakah AIDS ini? AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. Penyakit ini ditimbulkan oleh virus yang dinamai HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi rentan terhadap penyakit-penyakit umum yang menyerang penderita tersebut seperti disentri, malaria, TBC, tipus, kanker, dan sebagainya. Dengan demikian, sebagaimana AIDS berkembang dalam tubuhnya, maka seseorang yang menderita AIDS akan meninggal karena penyakit-penyakit umum tersebut.

Virus AIDS hidup dalam cairan tubuh akan tetapi ditularkan ke orang lain hanya melalui darah, air mani, dan cairan vagina. Itulah sebabnya, virus ini ditularkan hanya melalui kegiatan yang melibatkan hal-hal tersebut, bukan melalui benda-benda yang dipakai bersama seperti telepon, computer, pulpen, gelas, gagang pintu, WC, tempat duduk kolam renang, maupun alat olahraga di fitness center. Bahkan tidak juga melalui sikat gigi sekalipun. Para ahli juga mengatakan bahwa AIDS tidak juga ditularkan melalui batuk maupun bersin. Virus AIDS dapat ditularkan melalui hubungan seks, darah, dan jarum suntik.

Hubungan seks.

Oleh karena dapat ditularkan melalui air mani dan cairan kewanitaan, maka penularan virus ini dapat terjadi dari pria ke wanita, wanita ke pria, atau pria ke pria melalui alat kelamin, mulut atau dubur. Sudah jelas bahwa mereka yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit ini adalah mereka yang mempunyai banyak pasangan seks.

 Darah.

Darah yang disumbangkan seorang penderita AIDS akan menularkan  virus AIDS ke si penerima darah tersebut. Itulah sebabnya semakin banyak negara yang telah menerapkan program penyaringan virus AIDS tehadap para donor darah. Penularan AIDS melalui proses sumbang-menyumbang darah memang cukup menggusarkan, sebab banyak yang “tidak berdosa” yang telah menjadi korban. Pernah dilaporkan media massa tentang kejadian dimana banyak anak-anak Rumania yang menderita AIDS karena tertular melalui transfusi darah.

Ada satu kejadian yang cukup tragis yang terjadi di Zambia, Afrika. Sekelompok perampok berhasil masuk ke rumah satu keluarga kaya. Sebelum pergi membawa hasil rampokannya, salah seorang perampok ini menembak kedua putri keluarga tersebut. Untuk menyelamatkan kedua putri ini, para dokter memberi mereka transfusi darah, yang tanpa diketahui mengandung virus AIDS. Kedua putri yang “tidak berdosa” tersebut akhirnya mengidap AIDS. Oleh karena belum ada obat untuk AIDS maka keduanya pasti akan menemui ajalnya tanpa dapat tertolong.

Dilaporkan bahwa di Afrika, lebih dari 10% penderita AIDS memperoleh penyakit ini melalui transfusi darah. Kelihatannya biaya proses penyaringan para donor darah akan sangat membebani anggaran kesehatan negara-negara berkembang di sana. Di seluruh Afrika, dari mana AIDS ini berasal, para dokternya sedang berada dalam dilema: apakah uang yang ada pantas digunakan untuk penyaringan AIDS, ataukah untuk memvaksinasi rakyatnya terhadap penyakit-penyakit fatal lainnya seperti polio dan campak?

Wanita hamil penderita AIDS dapat juga menularkan penyakit tersebut kepada bayi yang dikandungnya selama masa kehamilan, pada proses kelahiran, atau setelah melahirkan melalui air susunya.

Jarum suntik.

Penggunaan jarum suntik secara bergiliran dapat menularkan AIDS dari si penderita ke yang lainnya jika jarum tersebut tidak disterilkan terlebih dahulu. Inilah sebabnya mengapa banyak dari penderita AIDS adalah mereka yang menyalahgunakan narkotika suntikan. Bukan hanya jarum suntikan saja yang dapat menularkan AIDS. Benda-benda penusuk kulit lainnya seperti alat penindik telinga, jarum tato dan akupunktur pun dapat menularkannya.

Sekarang boleh jadi ada yang bertanya, “Apakah semua yang ditulari virus AIDS akan menderita penyakit AIDS?” Jawabannya adalah: Belum tentu. Beberapa orang boleh jadi mengidap virus AIDS dalam tubuhnya tanpa menunjukkan gejala-gejala adanya penyakit AIDS sampai jangka waktu yang lama. Seseorang yang berada dalam kondisi ini disebut carrier atau pembawa. Tetapi, hanya sedikit orang yang demikian.

hiv aidsSatu studi yang dilakukan di Jerman menunjukkan bahwa sekitar 25% dari mereka yang terjangkit virus AIDS akan menunjukkan gejala AIDS dalam tempo 5 tahun, dan 75% lainnya akan menunjukkannya setelah 15 tahun. Lalu, 90% dari para carrier pada akhirnya akan menderita AIDS. Entah seseorang adalah “carrier sehat” atau tidak, selama dia memiliki virus AIDS dalam tubuhnya maka dia memiliki potensi untuk menularkannya pada orang lain.

Pada pertengahan tahun 1993, para peneliti AIDS melaporkan sesuatu yang cukup mengejutkan.  Dilaporkan bahwa ada sejumlah pelacur yang benar-benar kebal terhadap virus AIDS. Para pelacur ini dinyatakan kebal sebab mereka tidak tertular virus AIDS walaupun selama beberapa tahun ini telah melayani pelanggan yang mengidap virus berbahaya ini. Para pakar sedang meneliti faktor apa gerangan yang membuat para pelacur tersebut kebal. Selanjutnya diamarkan bahwa tidak banyak orang yang “beruntung” seperti mereka ini.

Sejarah menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu dan usaha yang besar untuk memerangi penyakit virus lainnya. Dibutuhkan 40 tahun untuk penelitian dan pembuatan vaksin polio dan 19 tahun untuk membuat vaksin hepatitis B. Negara-negara maju sedang bahu-membahu dalam menemukan obat dan vaksin untuk AIDS yang sampai saat buku ini ditulis, belum juga ditemukan.Sangat jelas bahwa pencegahan lebih baik dari pada pengobatan. Dalam soal pencegahan AIDS, ilmu kedokteran maupun norma agama (moral) memberikan pelajaran yang sama, bukan?

0 komentar:

Poskan Komentar