Mengenal Penyakit Hepatitis A, B, C

A2


Hepatitis virus sudah ada sejak dahulu kala.  Di abad ke-5 sebelum Tarikh Masehi, Hipokrates menyebutnya penyakit “kuning”.  Baru tahun 1960, Dr. Baruch Blumberg dan Dr. Irving Millman menemukan teknik untuk menguji Hepatitis B (HB) di laboratorium.  Setelah itu, penelitian ini diteruskan oleh Dr. Saul Krugman dari Fakultas Kedokteran New York University.  Beliaulah yang kemudian menemukan vaksin HB untuk pertama kalinya.

Di Asia, hepatitis adalah satu penyakit yang sangat merajalela, sehingga menyebabkan banyaknya sumber daya manusia yang hilang.  Diperkirakan bahwa di seluruh dunia, ada 316 juta orang pembawa (carrier) hepatitis dan 170 juta di antaranya tinggal di Asia.  Menurut perkiraan para ahli, di Asia Tenggara 10-20% dari penduduknya adalah carrier Hepatitis B. Sedangkan jumlah yang pernah terkena hepatitis ini adalah jauh lebih tinggi lagi.  Demikian pula halnya di Indonesia.

Penyakit Hepatitis A, B, C

Hepatitis yang akut bersifat mendadak tidak terlalu fatal.  Namun, menurut para penderitanya, penyakit ini sangat menyiksa sehingga “lebih buruk daripada kematian sekalipun”.  Hingga saat ini, belum ada obat khusus dan spesifik yang dapat menyembuhkan penyakit ini kecuali istirahat dan makan makanan yang baik, serta dengan perawatan yang bersifat mendukung untuk memperkecil komplikasi yang dapat timbul.

Ada tiga bentuk penyakit hepatitis yang menyerang hati (lever) yaitu Hepatitis A (HA), yang masing-masingnya disebabkan oleh virus atau kelompok virus yang berbeda.  Ketiga-tiganya menimbulkan gejala yang sama dengan tingkat keparahan yang berbeda, memerlukan pengobatan dasar yang sama, serta sangat menular.

Virus HA masuk ke dalam tubuh melalui mulut, dengan makanan atau minuman yang tercemari oleh kotoran seorang penderita HA.  Virus ini kemudian akan menjalani masa inkubasi selama 2–6 minggu, lalu menimbulkan gejala-gejala yang tampak.  Di Asia, penyakit ini mengalami puncak penyebarannya pada musim hujan.

HB lebih ganas daripada HA dan sangat mudah ditularkan kepada siapa pun dalam semua kelompok usia.  Contohnya, hanya 0,001 cc atau seperlima puluh tetes darah yang mengandung virus HB saja sudah dapat menularkan penyakit ini.  Pada awalnya, diduga bahwa penularan HB hanya terjadi melalui transfusi darah dan jarum suntik saja.  Tetapi sekarang, banyak ahli yang percaya bahwa penularannya dapat juga terjadi karena adanya kontak langsung dengan air liur dan cairan-cairan tubuh lainnya.  Itulah sebabnya penyakit ini sangat mudah ditularkan.

Virus Hepatitis B biasanya memasuki tubuh melalui luka atau lecet pada kulit, dan melalui selaput lendir.  Misalnya, tertusuk jarum, tukar-menukar sikat gigi, makan atau minum dari alat yang sama, handuk, dan sebagainya.  Penularan dapat juga terjadi dengan menggunakan alat-alat kedokteran dan perawatan gigi yang tidak steril, transfusi darah yang mengandung virus HB, kontak seksual ataupun berciuman dengan pengidap penyakit HB, dan dari ibu hamil pembawa virus HB kepada bayinya pada saat dilahirkan atau segera setelah dilahirkan.

HB dapat menimbulkan kerusakan yang parah pada lever, seperti pengerasan hati dan kanker lever.  Walaupun para pembawa (carrier) mengidap virus HB semenjak masa kecilnya, namun gejala-gejala penyakit ini sering timbul pada usia 40-an.  Peluang akan timbulnya penyakit lever meningkat dengan penambahan usia. 

Dengan alasan yang belum diketahui, jumlah pria carrier yang akhirnya akan menderita penyakit lever tiga kali lipat lebih banyak dari pada wanita carrier.

Belum begitu banyak yang diketahui tentang hepatitis non-A dan non-B.  Umumnya, HNANB bersifat kurang parah dibandingkan dengan HB. Paling sedikitnya ada tiga macam jenis penyakit hepatitis ini, yang dapat ditularkan melalui darah, cairan tubuh atau mulut. Studi-studi ilmiah menunjukkan bahwa 20% dari semua kasus hepatitis adalah HNANB.

Vaksin HB dapat memberikan perlindungan sampai 95% terhadap hepatitis B. Namun, harga vaksin ini cukup mahal untuk dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Para peneliti sedang berusaha untuk membuat vaksin HB dengan teknologi rekayasa genetika. Jika berhasil, maka ini akan dapat menolong pengedaran vaksin HB dengan harga yang murah. Sampai saat ini belum ada vaksin untuk hepatitis A dan hepatitis non-A non-B.

Ada beberapa kemungkinan yang terjadi jika seseorang berpenyakit hepatitis B. Pertama, dia akan sembuh total.

Kedua, menjadi penderita kronis (menahun) yang pasif. Dalam hal ini si penderita boleh jadi tidak menyadarinya karena gejala-gejalanya tidak tampak. Dalam kondisi ini ia disebut pembawa (carrier). Ia akan dapat menularkan penyakit ini kepada anggota keluarga dan orang di sekitarnya, melalui darah, air liur, air seni, keringat, air mani, cairan vagina, air mata, dan sebagainya.

Dr. R. Palmer Beasley dari University of Washington adalah pakar hepatitis yang keahliannya diakui dunia internasional. Salah satu penelitian yang dilakukannya selama 10 tahun menunjukan bahwa 90% dari bayi yang terjangkit HB akan bertumbuh menjadi carrier, sedangkan pada orang dewasa, hanya 10% dari penderitanya yang berkembang menjadi carrier.

Kemungkinan yang ketiga, hepatitis yang dideritanya dapat menjadi kronis dan aktif, yang dapat terus memburuk sampai menjadi cirrhosis, kemudian dapat berlanjut menjadi kanker hati. Penelitian yang lain yang dilakukan Dr. Beasley menunjukan bahwa 15% dari carrier HB yang ditelitinya memiliki peluang sebanyak 220 kali lebih besar untuk menderita kanker hati.

Memerangi penyakit hepatitis adalah tugas setiap orang. Anda dapat memeranginya dengan menjaga kebersihan pribadi, berkonsultasi dengan dokter tentang tes yang diperlukan untuk mengetahui apakah Anda seorang carrier atau bukan. Jika memang Anda adalah seorang carrier, lindungilah anggota-anggota keluarga anda dengan imunisasi.

0 komentar:

Poskan Komentar